Kamis, 22 April 2010

relex for a while at dunkin



There are many things we can do in this life.
There are many ways to relax.

give your body time to relax is something that we must consider




Rabu, 21 April 2010

Kekerasan via media Televisi dan Game

“Umurnya berapa mbak” tanyaku. “3 tahun mas. Hebat ya anak saya. Sudah bisa main game online” dia menjelaskan.

Hanya untuk memastiskan umurnya berapa, saya menanyakan umur bocah kecil tersebut. Seorang [ingat..orang!!] bocah kecil, umur 3 tahun, dengan sangat mahir memainkan game yang waktu saya lihat adalah game perang. “lha, kok bisa tahu mas itu game perang?” tanya temanku. “ya iyalah, kan ada tentaranya bawa senjata” jawabku. “oh, kalau bawa senjata itu mau perang ya mas”. “dasar oon, ya ndaklah”. Bocah kecil itu memang sedang memainkan game perang, seorang tentara yang bawa senjata, menembakin musuh, dan ketika sang musuh tertembak, darahnya keluar. Inikah yang dikatakan hebat?

Bocah kecil sudah diajarin dengan game yang seperti ini? Saya sudah bisa bayangkan bagaimana watak anak ini puluhan tahun mendatang. Ya, anak dengan watak keras karena sudah dibiasakan dengan game atapun tontonan2 penuh dengan kekerasan melalui media televisi. Seolah mau mengatakan “hei bocah kecil, itu musuhmu. Musuh harus dilawan dengan senjata. Ambil senjata dan tembakinlah musuhmu itu”. Jika ini yang terjadi, maka jangan heran jika banyak orang yang tumbuh dengan mentalitas2 yang ingin menyelesaikan masalah dengan mengandalkan tindakan2 fisik semata. Musuh adalah orang yang mesti dibasmi bahkan jika harus memakai senjata.

Walter Wink menggambarkan adanya struktur yang dihadirkan dalam bentuk scene-scene yang dihadirkan kepada kita setiap saat lewat layar yang disebut televisi. Kehadiran kartun-kartun klasik yang berbau dominasi dan kuasa termasuk di dalamnya indikasi kekerasan adalah dampak dari sebuah perkembangan budaya orang modern yang disebut dengan budaya populer. Hadir dan berkembang pesatnya teknologi sejak revolusi industri membuat produk bisa disebarkan secara masif ke berbagai sudut-sudut bumi. Itu berarti juga bahwa satu bentuk kebiasaan akan disebarkan ke seluruh penjuru dunia, dan salah satunya adalah via televisi [termasuk juga via game2 entah online atau tidak]. Karena melaluinya, kita bisa melihat dan mengikuti perkembangan yang terjadi terhadap satu budaya tertentu (kalau bukan life style), dan akibatnya, kita bisa terbawa dalam sebuah bentuk budaya yang sebenarnya hasil penanaman lewat media-media, produk budaya populer.

Dalam hal inilah saya ingin menghubungkan apa yang disampaikan Walter Wink mengenai Mitos Penebusan Kekerasan dalam budaya populer yang termanifestasikan dalam bentuk film-film kartun [dan juga game2 yang sedang berkembang sekarang] dimana Walter Wink mengatakan bahwa apa yang kita lihat dalam diri mereka hanyalah perubahan bentuk dalam soal nama jika dikaitkan dengan analisanya mengenai Kisah Marduk dan Tiamat. Namun yang menarik adalah bahwa ia menghubungkan hal ini dengan Teori Girard.

Girard dalam teorinya menyebutkan satu kata yang menarik yaitu soal “mimimes”, yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti tiruan (imitasi), proses ini dapat terjadi tanpa kita sadari. Kita ingin menjadi ada dengan jalan meniru orang lain. Berbahayanya adalah ketika kemudian apa yang dihadirkan kepada kita sebagai objek mimimes hadir dalam layar-layar televisi yang sering dan berulang di tampilkan. Sehingga secara tidak sadar, kita terhinoptis oleh satu bentuk “kebiasaan” yang akan kita jadikan sebagai inspirasi kita.

Maka menjadi menarik apabila media televisi [termasuk dengan penyebaran game2] sebagai bagian dari budaya populer memainkan peran penting dalam proses peniruan secara tak sadar yang disebarkan kepada setiap manusia. Budaya kekerasan yang ditampilkan lewat media televisi akan sangat berbahaya, dan mungkin Walter Wink benar bahwa sebenarnya, kartun-kartun klasik yang mengekspos soal hero, musuh, viktori dan unsur kekerasan hanyalah perubahan nama dari sebuah kisah yang dulu ada yaitu kisah tentang Marduk dan Tiamat.

Bacaan: Walter Wink, Engaging the Powers: Discernment and Resistance in a World of Domination, 1992

Minggu, 18 April 2010

djogja at Night





giLa-giLaan berdua





There are many things we can do,
so life is more beautiful.
If we provide ourselves to see something usual
from a different perspective,
something that usually would be unusual.

menjeLajahi djogja

dee n abdiz...lg ngapain ya...heheheh


di sebuah pojok benteng


dee [syahidan]


[pojok benteng]


dee n abdiz di jembatan k.code

Kamis, 08 April 2010

koTa GusiT

sore di tepi pantai kota gusiT


R.S


pemandangan dari atas bukit "hilihati" gusiT


pemandangan kota gusiT dari atas pesawat

Rabu, 07 April 2010

Kebebasan dan Konflik sesama Manusia Menurut Sartre


Tulisan ini memaparkan “sangat sedikit” tentang bagaimana Sartre memandang kebebasan manusia. Hal ini penting lho karena setiap diri kita, entah siapapun, selama masih mengaku manusia dan masih waras pasti dalam dirinya ada yang namanya kebebasan.

Kebebasan selalu mengiringi manusia. Entah sadar atau tidak, dalam perjalanan hidup, kita akan dihadapkan dengan diri yang punya kebebasan. Kita ingin melakukan apa? Kita bebas memilihnya bukan. Bahkan kita bebas kok untuk mau bangun pagi apa ndak, kita bebas untuk percaya ama Tuhan atau tidak, bahkan kita bisa memilih kok mau Tuhan yang mana dan berapa Tuhan yang akan kita sembah. Kita punya kebebasan untuk melakukan itu. Kita bahkan punya kebebasan untuk dilihat seperti apa, mau orang yang ambur adul atau orang yang kelihatan rapi. Setiap kita punya kebebasan untuk memilih dan melakukan apapun. Kita bebas. Enak buanget ya....


Ndak juga. Soale, kebebasan kita itu ndak dengan gampangnya berlaku dalam dunia ini. Ndak gampang? Ya, karena tiap orang tentu punya kebebasannya sendiri. Ini masalah bukan. Ya, kebebasan kita berhadapan dengan kebebasan orang lain. Makane kebebasan kita itu mesti [seharusnya] ndak berbenturan dengan orang lain bukan. Makanya dibuatlah banyak aturan sosial, hukum sosial, norma-norma yang mengatur dan mengendalikan banyak kebebasan kita. Institusi-institusi itu akhirnya menjadi batas dari setiap kebebasan yang kita miliki. Tp ada juga orang yang nekat lho mau ngelompatin tuh norma. Bahkan tanpa takut bahwa kebebasannya itu berbenturan dengan orang lain. Misalnya, wah malam-malam gini pengennya teriak-teriak. “Ya sakarepmulah” kata temanku. “mau jungkir balik juga bisa”. Lha, tetapi itu kan mengganggu orang lain toh yang lagi bobo dengan tenang. “gila, malam-malam gini siapa yang teriak-teriak ya”. Lha, makanya kemudian kebebasan itu tidak hanya dibatasi sedemikian rupa oleh institusi tersebut tetapi juga bagi yang melanggar dikenai “hukuman”. Jadi kebebasan manusia skarang ini ndak dengan gampangnya bisa diterapkan, kecuali.....”..kecuali lo mau masuk penjara, mas” kata temanku....hahahahah. Dan memang benar, kalau kita mau masuk dalam teorinya Hobes, akar dari adanya hukum adalah karena manusia saling memangsa sesamanya manusia, sehingga dibutuhkan Leviatan. Manusia saling mengobjekkan satu dengan yang lain, dan itu tampak dalam berbagai macam peristiwa mengerikan seperti pembantaian orang Yahudi.


Bagaimana dengan Sartre [nama lengkapnya Jean Paul Sartre]. Dia mengatakan bahwa kebebasan itu ontologis. Artinya kebebasan itu sudah merupakan bagian yang melekat dalam diri manusia dan memang sudah ada dan demikian adanya. Maka, kebebasan menurutnya adalah sesuatu yang “mutlak”. Maka bagi dia, kebebasan merupakan penentu bagaimana orang membentuk eksistensinya. Setiap orang harus punya kebebasan untuk membentuk bagaimana dirinya dalam dunia. Tanpa itu, manusia belumlah menjadi dirinya.


Tetapi kan di dunia ini ndak hanya ada aku toh. “ya iyalah mas, masa cuman lo. Gmana jadinya dunia ini kalau cuman lo?” nyindir temanku. Lha, jika kebebasan merupakan syarat pembentuk eksistensi, bagaimana dengan orang lain? Makanya, Sartre mengatakan bahwa orang lain adalah “ancaman”. Ketika orang lain memandang diriku, maka pada saat itu aku diobyekkan dan dia menjadi subyek di atasku. Aku menjadi suatu “benda” dalam dunia orang lain (Bartens: hlm.166).

Being and Nothingness merupakan karya puncak Sartre dalam memahami eksistensi manusia dan kebebasannya. Dalam buku ini juga dijelaskan tentang sikap ontologi Sartre. Setidaknya kita bisa mencatat beberapa hal tentang pikiran2 Sartre [masih banyak tentunya yang diuraikan di dalamnya]:


1. Cara berada. Selalu mulai dari “kesadaran”. Kesadaran ini membawa kita pada Ada. Ada ini dibedakan oleh Sartre sebagai “Ada pada dirinya” yang menunjuk pada benda dan “Ada bagi dirinya” yang menunjuk pada manusia. Manusia adalah kesadaran karena ia adalah sesuatu tetapi pada saat yang sama ia bisa mengambil jarak terhadap sesuatu itu. Benda tidak bisa dan hanya merujuk pada sesuatu. Cara berada ini pulalah yang kemudian sangat mempengaruhi bagaimana kita melihat orang lain dalam gagasan Sartre.

2. Kebebasan

Kesadara membawa manusia pada kebebasan karena ia bisa melihat dirinya dan melakukan pengubahan terhadap dirinya. Maka, dirinya bukanlah sesuatu yang seperti itu [tidak statis] karena kebebasan itu membawanya pada pengubahan terhadap dirinya sendiri. Manusia akan terus melakukannya terus menurus dan dengan jelas ini pulalah yang membedakannya dengan benda. Benda tidak bisa melakukan pengubahan terhadap dirinya. Kebebasan selalu akan membawa manusia pada usaha untuk “meniadakan diri”


Konflik menjadi khas dalam gagasan Sartre. Ia hadir dalam relasi subjek-objek. Dan itulah hal yang wajar. Namun yang menjadi masalah adalah ketika kemudian konflik relasi itu berujung pada dominasi dan menindas. Menurutnya, manusia memang punya potensi untuk itu karena manusia bukanlah benda dan karena manusia sendiri punya kebebasan untuk melakukannya.


Dari sudut pandang Kristen, tentu kita seharusnya menjadikan manusia lain sebagai sesama dan bukan sebagai objek yang kemudian kita tindas. Yesus menentang setiap bentuk dominasi dengan jalan Dia sendiri tidak membawa kuasa yang mendominasi, bahkan ketika setiap kesempatan itu ada. Ia melakukan perlawanan terhadap mereka karena melihat bahwa orang pada zamannya telah sedemikian rupa melakukan peng”objek”kan terhadap kemanusiaan manusia itu sendiri.


Tentu tidak adil jika kita menghakimi gagasan Sartre. Bagi saya sendiri, gagasan Sartre adalah sesuatu yang nyata ada dalam diri. Ia membongkar dasar dari relasi yang biasanya kita bangun, yang sering kali meng”objek”kan orang. Kebebasan itulah yang membuat kita menjadi seperti itu. Tetapi tentu, dalam perspektif Kristen, hal itu harus bisa kita minimalisir karena justru yang diinginkan dari kita adalah sikap menempatkan manusia pada subjek, dirinya sendiri, sebagaimana adanya dia, tanpa menghakimi, tanpa menindas dan mendominasinya.


Jean Paul Sartre adalah tokoh Eksistensialisme yang hidup pada abad ke-20 ini. Dia dilahirkan di Paris, Perancis pada tanggal 21 Juni 1905