




This chamber is an ordinary chamber. i use it to keep and share everything that happen in my journey of life...
Kisah Maria dan Marta adalah sebuah kisah yang menarik. Mengapa? Karena dalam bagian ini diceritakan mengenai bagaimana sambutan terhadap Yesus dilakukan. Marta menyambut Yesus dengan menyediakan jamuan bagiNya, sedangkan Maria, saudaranya lebih memilih duduk dekat Yesus dan mendengarkan Yesus berbicara.
Banyak orang menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh Marta adalah sesuatu yang tidak benar oleh karena ia lebih mementingkan masalah yang sifatnya “duniawi” ketimbang mendengarkan Yesus. Hal ini menyebabkan orang lebih memilih sambutan dengan cara Maria dan mengabaikan sambutan Marta. Tetapi apakah hal demikian benar?
Perlu diingat bahwa Yesus dan para muridNya sedang dalam perjalanan (ayat 38). Tentunya, adalah hal yang wajar ketika Marta menyambut mereka dengan mempersiapkan jamuan (diakoni,an: pelayanan meja). Tentu apa yang dilakukan Marta berhubungan erat dengan makanan dan minuman, karena Yesus dan para murid tentunya telah lelah dalam perjalanan.
Maria lebih memilih untuk duduk dekat kaki Yesus dan terus mendengarkanNya (ayat 39). Hal inilah yang menyebabkan Marta merasa bahwa Maria tidak membantuNya (ayat 40). Agaknya kesibukan Marta tidak menjadi kesibukan saudaranya Maria. Namun, atas permintaan Marta agar Yesus menyuruh Maria membantuNya, Yesus berkomentar bahwa Marta “kuatir” dan menyusahkan diri dengan banyak perkara (ayat 41). Dia melanjutkan bahwa Maria “telah memilih bagian yang terbaik” yang tidak akan diambil padaNya (ayat 42).
Namun narasi Injil Yohanes memberi kita petunjuk lain. Anggapan bahwa Marta hanya terikat dengan “perkara” duniawi, nyatanya tidak sepenuhnya benar. Justru pada bagian tentang cerita Lazarus nampak bahwa Marta adalah orang yang tidak hanya peduli dengan “perkara duniawi” saja, namun ia juga memiliki iman yang luar biasa. Dalam ayat 20 diceritakan bahwa Marta pergi mendapatkan (u`ph,nthsen: ia pergi menjumpai Yesus) Yesus sedangkan Maria tinggal di rumah. Bahkan imannya membawa ia pada pengakuan percaya akan kemesiasan Yesus (Yohanes 11:27). Pengakuan Marta ini tentu saja luar biasa. Kita masih ingat dengan pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias. Namun kali ini, yang mengatakan hal itu bukanlah Petrus (laki-laki) namun seorang perempuan, yang menyediakan diri untuk melayani kebutuhan perut Yesus dan para murid ketika mereka sedang kelelahan. Pengakuan itu bukan keluar dari mulut Maria yang justru menghabiskan waktu mendengarkan perkataan Yesus.
Kelihatan bagi kita bahwa Marta bukanlah orang yang tidak menyediakan diri untuk mendengarkan Yesus. Pelayanannya dengan menjamu Yesus dan para murid adalah hal yang bisa ia lakukan. Namun, dalam kaitannya dengan itu, perkataan Yesus kepada Marta bahwa ia terlalu kuatir dan terlalu sibuk hanyalah untuk mengingatkan bahwa Marta juga harus menyediakan waktu untuk mendengarkan Yesus. Dalam Yohanes 11 kita melihat bahwa Marta justru punya iman yang luar biasa kepada Yesus lewat pengakuanNya bahwa Yesus adalah Mesias.
Banyak orang, termasuk perempuan memahami pelayanan. Dua model di atas setidaknya menggambarkan hal itu. Ada orang yang sibuk dengan pelayanan di gereja dan mengabaikan perkara-perkara jasmani. Ia menghabiskan waktu untuk pelayanan sehingga ia tidak punya waktu lagi untuk keluarganya sendiri, teman dan sesama. Namun disisi lain, ada juga orang yang lebih mementingkan hal yang sifatnya jasmani dan melupakan pelayanan untuk Tuhan. Partisipasi aktif dalam pelayanan gereja tidak menjadi kepedulian kelompok ini. Mereka mengatakan bahwa dengan melayani keluarga, terlibat dalam berbagai aktiftas sosial cukup untuk melayani Yesus.
Betul bahwa semua itu dilakukan untuk melayani Yesus. Pelayanan, baik yang sifatnya di gereja maupun di luar gereja seharusnya di arahkan untuk Tuhan. Namun dalam kenyataanya ada banyak orang yang “dikuasai” oleh kesibukannya. Ia terbawa dalam hawa nafsu untuk setiap hari telibat dalam perkara duniawi sehingga lupa meluangkan waktu untuk mendengarkan Tuhan.
Yang diinginkan Tuhan adalah keseimbangan. Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang seimbang. Ibu Teresa adalah contoh yang baik untuk hal ini. Ia pernah mengatakan bahwa yang menyanggupi ia melakukan pelayanan kepada orang miskin adalah spirit dari doa yang setiap pagi ia panjatkan. Ibu Teresa menyambut Yesus dalam diri orang miskin lewat tindakan sosialnya dan doa di pagi hari untuk mendengarkan suara Yesus.
Terkisah Tukang Tempe Telah Tertipu Tukang Tahu. Tukang Tempe Tahu
Ternyata Tipuan Tukang Tahu Terlampau Tragis. Tanpa Tunggu Tempo Tukang
Tempe Tonjok Tukang Tahu. Tukang Tahu Tertonjok Telak Tepat Terkena
Tengkuknya. Tukang Tahu terus Teriak-Teriak Tanpa Terhenti “Tolong!!!
Tolong!!! Tukang Tempe Tonjok Tukang Tahu, Tahunya Tumpah Tercecer
Tercampur Tanah!!!”
Tukang Tempe Tak Terima Terhadap Teriakan Tukang Tahu. Tukang Tempe
Turut Teriak-Teriak “Tukang Tahu TuTi!!! (Tukang Tipu). Teriakan Tukang
Tempe Terdengar Tante Tuti. Tante Tuti Tak Terima Terhina Teriakan Tukan
Tempe. Tante Tuti Turut Teriak “Tukang Tempe Tukang Togel!!!!” Tukang
Togel Teramat Terpukul Terimbas Teriakan Tante Tuti. Ternyata Tukang
Togel Telah Tahu Tante Tuti Teramat Tengil. Tukang Togel Turut Tonjok
Tante Tuti. Tak Terima Tonjokan Tukang Togel Tante Tuti Tampar Tukang
Togel “Teplak!!!!” Ternyata Tamparan Tante Tuti Telah Tercap Tamparan
Terdahsyat. Tukang Tempe Terbengong Terhadap Tatapan Tante Tuti. TUkang
Tahu Terus Tampar Tukang Tempe Telak Tepat Telinganya. Ternyata Tanpa
Tahu Tukang Tempe Tukang Tahu Teramat tertarik Terhadap Tante Tuti
Tante Tuti Terkesima Tatapan Tukang Tahu. Tante Tuti Tersenyum Tersipu,
Terkuak Ternyata Tatapan Tukang Tahu Termasuk Tipuan Tanpa Tanding.
Tante Tuti Turut Tonjok Tukang Tahu. Terjadilah Tragedi Terparah
Tragisnya. Terakhir Terkabarkan Tukang Tahu, Tukang Tempe, Tante Tuti,
Termasuk Tukang Togel, Terlibat Tarik-Tarikan Tempat Tidur……
Udah lah ane bingung mau nerusin apa… kalau ada yang bisa silakan
Komen…… Sory Ya kalau Repost… ane cuma iseng, semoga terhibur….
sumber: http://ekstra.kompasiana.com/group/fiksi/2009/12/31/anekdot-jelang-tahun-baru-semua-berawal-dari-t/
"Sebagai pejuang reformasi almarhum selalu ingat akan gagasan universal, bahwa kita menghargai kemajemukan melalui ucapan, sikap, dan perbuatan. Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan penghormatan kita pada kemajemukan ide dan identitas, kemajemukan pada kepercayaan agama, etnik, dan kedaerahan. Beliau adalah bapak multikulturalisme dan plurasme di Indonesia," kata Presiden.
Lebih lanjut Kepala Negara mengatakan sejarah Indonesia mencatat, Gus Dur adalah tokoh yang memiliki jasa besar terhadap perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia dalam segi keagamaan, demokrasi dan anti diskriminasi.
"Pada 1998, beliau bersama pemimpin dan ulama NU mendirikan PKB, sebuah partai yang hingga hari ini memperjuangkan kemajuan bangsa atas dasar Islam dan kebangsaan. Beliau juga pemikir Islam yang sangat dihormati di Indonesia dan dunia. Beliau juga dikenal tokoh yang berpengaruh di kalangan Nahdiyin dan kalangan masyarakat Indonesia," tegasnya.
Ia menambahkan, saat menjabat sebagai presiden, Gus Dur menetapkan kebijakan yang mengurangi diskriminasi dan menegaskan bahwa negara memuliakan kemajemukan. Jasa beliau terhadap perkembangan masyarakat dan bangsa yang berlandaskan demokrasi sungguh sangat berarti pada negara Indonesia.
Meski demikian, kata Presiden, sebagai manusia biasa dan juga pemimpin, tentu pernah diliputi kesalahan dan kekurangan. Untuk itu, Kepala Negara meminta semua pihak dengan hati yang besar dan jernih untuk menghargai jasa-jasa Gus Dur.
"Dengan jujur dan hati yang bersih, kita akui begitu banyak jasa diberikan tapi kita sadari sebagai manusia biasa dan pemimpin tidak luput dari kekurangan dan kekhilafan, untuk itu mari kita sebagai bangsa yang berjiwa besar ucapkan terima kasih dan penghargaan atas darma bakti pada bangsa dan negara," kata Presiden.
Upacara pemakaman mantan Presiden Abdurrahman Wahid berlangsung mulai pukul 13:10 WIB hingga pukul 14:10 WIB dipimpin langsung oleh Presiden Yudhoyono. Ikut hadir Ibu Ani Yudhoyono, Wapres Boediono dan Ibu Herawati, mantan Wapres Try Sutrisno beserta ibu Try Sutrisno serta sejumlah menteri kabinet Indonesia Bersatu dan para tokoh nasional lainnya.
Ribuan orang memadati areal pesantren itu dan berebut untuk mendekat dan melihat langsung prosesi pemakaman yang berlangsung dalam Upacara Kenegaraan. Suara tahlil dan isak tangis mewarnai proses pemakaman itu.
Kamis, 31 Desember 2009 | 14:18 WIB
Bukan saja warga Nahdlatul Ulama (NU), seluruh rakyat Indonesia merasa kehilangan atas wafatnya ulama besar dan tokoh ormas Islam terbesar di Indonesia itu.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekitar pukul 18.30 WIB sempat menjenguk Gus Dur untuk mengetahui kondisi terkininya di RSCM.
Kepala Negara berada di rumah sakit itu hanya sekitar 30 menit dan pada pukul 19.00 WIB langsung kembali ke Istana dan memanggil Wapres Boediono dan Menkes Endang Sedyadingsih untuk membahas rencana lebih lanjut terkait pemakaman Gus Dur.
Dalam pandangan Wakil Presiden Boediono, almarhum Gus Dur merupakan sosok pemersatu bangsa yang hingga kini belum tertandingi oleh siapa pun.
"Kita benar-benar kehilangan seorang tokoh besar, tokoh pemersatu bangsa dalam sejarah modern Indonesia," kata Boediono seperti disampaikan juru bicaranya, Yopi Hidayat.
Boediono menambahkan, saat ini sangat sulit untuk mencari tokoh-tokoh pemersatu bangsa seperti Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur.
Ke depan, lanjut Boediono, Indonesia diharapkan dapat memiliki kader-kader pemersatu bangsa seperti Gus Dur.
Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, kepergian Gus Dur adalah kehilangan besar bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.
"Selama hidupnya Gus Dur telah menampilkan peran tertentu dan memberikan jasa bagi bangsa Indonesia," kata Din.
Ia menambahkan, walaupun Gus Dur memiliki banyak ide dan bersikap kontroversial, tetapi banyak pula idenya yang bermanfaat seperti pengembangan atas perlunya kemajemukan dan penguatan demokrasi.
"Saya berharap hilangnya seorang tokoh umat dan tokoh bangsa, maka akan segera tergantikan dengan munculnya tokoh-tokoh lain, khususnya di kalangan umat Islam," demikian Din Syamsuddin.
KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjabat Presiden RI keempat mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940.
Ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, adalah putra pendiri organisasi terbesar Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy`ari. Sedangkan ibunya bernama Hj Sholehah, adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, KH Bisri Syamsuri.
Gus Dur menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Sebagaimana dikutip dari situs resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya.
Selain itu, Gus Dur juga aktif berkunjung ke perpustakaan umum di Jakarta. Pada usia belasan tahun Gus Dur telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku.
Di samping membaca, Gus Dur dikenal hobi bermain bola, catur dan musik. Bahkan Gus Dur, pernah diminta untuk menjadi komentator sepak bola di televisi. Kegemaran lainnya, yang ikut juga melengkapi hobinya adalah menonton bioskop.
Kegemarannya itu mendapat apresiasi yang mendalam di dunia perfilman sehingga pada 1986-1987 diangkat sebagai ketua juri Festival Film Indonesia.
Masa remaja Gus Dur sebagian besar dihabiskan di Yogyakarta dan Tegalrejo. Di dua tempat inilah pengembangan ilmu pengetahuan mulai meningkat. Masa berikutnya, Gus Dur tinggal di Jombang, di pesantren Tambak Beras, sampai kemudian melanjutkan studinya di Mesir.
Sebelum berangkat ke Mesir, pamannya telah melamarkan seorang gadis untuknya yaitu Sinta Nuriyah, putri H Muh. Sakur. Perkawinannya dilaksanakan ketika Gus Dur berada di Mesir.
Sepulang dari pengembaraannya mencari ilmu, Gus Dur kembali ke Jombang dan memilih menjadi guru. Pada tahun 1971, Gus Dur bergabung di Fakultas Ushuludin Universitas Tebu Ireng Jombang.
Tiga tahun kemudian beliau menjadi sekretaris Pesantren Tebu Ireng, dan pada tahun yang sama Gus Dur mulai menjadi penulis. Beliau kembali menekuni bakatnya sebagaii penulis dan kolumnis. Lewat tulisan-tulisan tersebut gagasan pemikiran Gus Dur mulai mendapat perhatian banyak.
Pada 1974, Gus Dur diminta pamannya KH Yusuf Hasyim untuk membantu di Pesantren Tebu Ireng Jombang dengan menjadi sekretaris.
Dari sini Gus Dur mulai sering mendapatkan undangan menjadi nara sumber pada sejumlah forum diskusi keagamaan dan kepesantrenan, baik di dalam maupun luar negeri.
Selanjutnya Gus Dur terlibat dalam kegiatan LSM. Pertama di LP3ES bersama Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin dan Adi Sasono dalam proyek pengembangan pesantren, kemudian Gus Dur mendirikan P3M yang dimotori oleh LP3ES.
Pada 1979, Gus Dur pindah ke Jakarta. Mula-mula beliau merintis Pesantren Ciganjur. Sementara pada awal tahun 1980 Gus Dur dipercaya sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU.
Kiprahnya di PBNU semakin menanjak hingga akhirnya terpilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-`aqdi yang diketuai KH As`ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada muktamar ke-27 di Situbondo, pada 1984.
Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar NU ke-28 di pesantren Krapyak Yogyakarta, 1989, dan Muktamar NU di Cipasung Jawa Barat, pada 1994.
Jabatan Ketua Umum PBNU baru ditinggalkannya setelah Gus Dur menjabat Presiden RI keempat pada 20 Oktober 1999 menggantikan BJ Habibie setelah terpilih dalam Sidang Umum MPR hasil Pemilu 1999.
Selama menjadi presiden, tidak sedikit pemikiran Gus Dur yang kontroversial dan seringkali pendapatnya berbeda dari pendapat banyak orang.
Dalam menyelenggarakan pemerintahannya, Gus Dur membentuk Kabinet Persatuan Nasional. Masa kepresidenan Gus Dur berakhir pada Sidang Istimewa MPR pada 23 Juli 2001 dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri setelah mandat Gus Dur dicabut oleh MPR.
Oleh Arief Mujayatno [kompas.com]
Tak terkecuali bagi keponakannya yang kini menjabat Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar. Meski sempat berseteru awal 2008 lalu, pria yang akrab disapa Cak Imin itu mengaku menyimpan tiga "warisan" Gus Dur.
Warisan tersebut adalah, pertama, daya tahan kekuatan kemandirian yang dimiliki Gus Dur. Kedua, kiprah Gus Dur yang menyatukan Islam dan kebangsaan dalam satu visi yang utuh. Dan ketiga, menjadikan demokrasi sebagai solusi yang terus dikembangkan menjadi tradisi dan kultur politik nasional.
"Perjuangan yang telah dirintis Gus Dur ini luar biasa. Kami akan menjadi ujung tombak cita-cita Gus Dur dan mengemban mandat besar untuk kerja bahu membahu," kata Muhaimin kepada wartawan, saat menghadiri tahlilan untuk Gus Dur di Kantor DPP PKB, Jakarta Pusat, Kamis (31/12/2009) malam.
Tantangan PKB pasca ditinggal Gus Dur, diakui Cak Imin tak mudah. Akan tetapi, ia meyakini PKB tetap dapat menjalankan fungsinya dan merangkul seluruh pihak yang selama ini berseberangan. "Saya akan bekerja keras merangkul teman-teman yang berbeda. PKB akan meneruskan semangat dan cita-cita Gus Dur," ujar Cak Imin, yang kini menjabat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Kamis, 31 Desember 2009 | 21:13 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary